Prabu Siliwangi memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang, yang keduanya adalah putra dan putri kesayangan sang Prabu. Raden Kian Santang terkenal dengan kesaktiannya yang luar biasa. Di dunia persilatan nama Raden Kian Santang sudah tak asing lagi sehingga seluruh Pulau Jawa bahkan Nusantara saat itu sangat mengenal siapa Raden Kian Santang. Tak ada yang sanggup mengalahkannya. Bahkan, Raden Kian Santang sendiri tak pernah melihat darahnya sendiri.
Suatu ketika, Raden Kian Santang yang adalah putra Prabu Siliwangi itu terkejut ketika di dalam mimpinya ada seorang kakek berjubah yang mengatakan bahwa ada seorang manusia yang sanggup mengalahkannya, dan kakek tersebut tersenyum. Mimpi itu terjadi beberapa kali hingga Raden Kian Santang bertanya-tanya siapa gerangan orang itu. Dalam mimpi selanjutnya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata bahwa orang itu di sana.
Penasaran dengan mimpinya, Raden Kian Santang pun meminta ijin kepada ayahandanya, Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan, dan menceritakan semuanya. Prabu Siliwangi walaupun berat hati tetap mempersilahkan putranya itu pergi. Namun Ratu Rara Santang, adik perempuan Raden Kian Santang, ingin ikut kakaknya tersebut.
Meski dicegah, Ratu Rara Santang tetap bersikeras ikut kakaknya, yang akhirnya mereka berdua pergi menyeberangi lautan yang sangat luas menuju suatu tempat yang ditunjuk orang tua alias si kakek berjubah di dalam mimpi Raden Kian Santang itu.
Hari demi hari, minggu berganti minggu dan genap delapan bulan perjalanan sampailah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang ke sebuah dataran yang asing, tanahnya begitu kering dan tandus, padang pasir yang sangat luas serta terik matahari yang sangat menyengat mereka melabuhkan perahu yang mereka tumpangi.
Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang begitu sangat dikenalnya. Yah, kakek yang pernah datang di dalam mimpinya itu. Kakek itu tersenyum dan berkata: “Selamat datang anak muda! Assalamu alaikum!” Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang hanya saling berpandangan dan hanya berkata: “Aku ingin bertemu dengan Ali, orang yang pernah kau katakan sanggup mengalahkanku.”
Dengan tersenyum kakek itu pun berkata: “Anak muda, kau bisa bertemu Ali jika sanggup mencabut tongkat ini!” Lalu si kakek itu menancapkan tongkat yang dipegangnya.
Kembali Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang saling berpandangan, dan Raden Kian Santang tertawa terbahak-bahak. “Hai orang tua! Di negeri kami adu kekuatan bukan seperti ini, tapi adu olah kanuragan dan kesaktian. Jika hanya mencabut tongkat itu buat apa aku jauh-jauh ke negeri tandus seperti ini? Ujar Raden Kian Santang mengejek.
Kakek itu kembali tersenyum. “Anak muda, jika kau sanggup mencabut tongkat itu kau bisa mengalahkan Ali, jika tidak kembalilah kau ke negerimu anak sombong.” Kata orang tua itu.
Akhirnya Raden Kian Santang mendekati tongkat itu dan berusaha mencabutnya. Namun upayanya tak berhasil. Semakin dia mencoba semakin kuat tongkat itu menghunjam.
Keringatnya bercucuran, sementara Ratu Rara Santang tampak khawatir dengan keadaan kakaknya, ketika tiba-tiba darah di tangan Raden Kian Santang menetes, dan menyadari bahwa orang tua yang di hadapan mereka bukan orang sembarangan.
Saat itu, lutut Raden Kian Santang bergetar dan dia merasa kalah. Ratu Rara Santang yang terus memperhatikan kakaknya segera membantunya, namun tongkat itu tetap tak bergeming, akhirnya mereka benar-benar mengaku kalah.
“Hai orang tua! Aku mengaku kalah dan aku tak mungkin sanggup melawan Ali. Melawan dirimu pun aku tak bisa! Tapi ijinkan aku bertemu dengannya dan berguru kepadanya.” Ujar Raden Kian Santang.Kakek itu kembali tersenyum. “Anak muda! Jika Kau ingin bertemu Ali, maka akulah Ali.” Tiba-tiba mereka berdua bersujud kepada orang tua itu, namun tangan orang tua itu dengan cepat mencegah keduanya bersujud. “Jangan bersujud kepadaku anak muda! Bersujudlah kepada Zat yang menciptakanmu, yaitu Allah!”
Akhirnya mereka berdua mengikuti orang tua tersebut, yang ternyata Ali Bin Abi Tholib, ke Baitullah dan memeluk agama Islam.
Begitulah, Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh. Dalam perjalanannya Raden Kian Santang kembali ke pulau Jawa dan menyebarkan Islam di daerah Garut hingga meninggalnya. Sedangkan Ratu Rara Santang dipersunting oleh salah satu pangeran dari tanah Arab yang bernama Syarif Husen. Perkawinan antara Ratu Rara Santang dan Syarif Husen itu menghasilkan dua putra, yaitu Syarif Nurullah dan Syarif Hidayatullah. Syarif Nurullah menjadi penguasa Makkah saat itu, sedangkan Syarif Hidayatullah pergi ke Jawa untuk bertemu dengan ayah dan kakeknya.
Syarif Hidayatullah pamit untuk pergi ke Jawa dan ingin menyebarkan Islam ke sana. Dan pergilah Syarif Hidayatullah mengarungi samudera nan luas seperti halnya dulu ibu dan pamannya, Ratu Rara Santang dan Raden Kian Santang.
Setibanya di tanah Jawa, Syarif Hidayatullah tidak kesulitan berjumpa dengan ayah dan kakeknya. Namun Syarif Hidayatullah prihatin karena hingga saat itu kakeknya masih belum masuk ke dalam agama Islam dan tetap bersikukuh dengan agamanya yaitu agama Sunda Wiwitan, meski berbagai upaya terus dilakukan dan dia hanya berdoa semoga kakeknya suatu saat diberi hidayah oleh Allah.
Melihat keuletan cucunya dalam menyebarkan Agama Islam, Prabu Siliwangi memberikan tempat kepada cucunya sebuah hutan yang kemudian bernama Cirebon. Dan di sinilah pusat penyebaran Islam dimulai. Murid - muridnya kian bertambah dan Islam sangat cepat menyebar.
Dalam penyebarannya Syarif Hidayatullah mengembara ke ujung barat pulau Jawa, ke daerah kulon, tempat pendekar-pendekar banyak tersebar. Di Pandeglang ada Pangeran Pulosari dan pangeran Aseupan, juga terdapat Raja Banten yang terkenal sangat sakti, bahkan Raden Kian Santang pun segan kepadanya, yaitu Prabu Pucuk Umun, Raja Banten yang memiliki ilmu Lurus Bumi yang sangat sempurna, juga pukulan braja musti yang bisa menghancurkan gunung, bahkan menggetarkan bumi.
Rupanya Syarif Hidayatullah telah mengetahui kesaktian Prabu Pucuk Umun yang menguasai daerah itu. Untuk langsung mengajak Prabu Pucuk Umun masuk ke dalam Agama Islam sangat tidak mungkin, sebab Syarif Hidayatullah tahu Prabu Pucuk Umun mudah sekali murka, dan hal ini sangat berbahaya.
Dengan bersusah payah Syarif Hidayatullah menemui Pangeran Pulosari dan juga Pangeran Aseupan, yang merupakan sepupu dari Prabu Pucuk Umun, dan rupanya Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan sangat tertarik dengan ajaran agama yang di bawa oleh cucu Raja Pajajaran itu, dan keduanya menganut agama Islam.
Masuknya kedua pangeran itu ke dalam agama yang dibawa Syarif Hidayatullah terdengar juga oleh Prabu Pucuk Umun, dan hal ini membuatnya murka. Tiba-tiba langit menjadi gelap, halilintar bergelegar bersahutan. Pangeran Aseupan dan Pangeran Pulosari memahami bahwa kakak sepupunya telah mengetahui masuknya mereka kepada agama yang dibawa Syarif Hidayatullah.
Dengan ilmu Lurus Buminya, Prabu Pucuk Umun memburu kedua pangeran yang menurutnya berkhianat itu, dan terjadilah perkelahian yang sangat dahsyat. Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan berusaha mengelak dari serangan-serangan yang dilakukan kakak sepupunya itu. Namun kesaktian luar biasa yang dimiliki Prabu Pucuk Umun membuat mereka lari ke arah selatan, dan di sanalah Syarif Hidayatullah menunggu mereka, dan dengan luka yang diderita mereka, akhirnya mereka pun berlindung di belakang Syarif Hidayatullah.
Prabu Pucuk Umun berteriak: “Hai cucu Siliwangi! Jangan kau ganggu tanahku dengan agamamu, jangan kau usik ketenangan rakyatku, enyahlah kau dari sini sebelum kau menyesal dan berdosa kepada kakekmu.”
Dengan tersenyum Syarif Hidayatullah menjawab: “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan agama ini, karena agama ini bukan hanya untuk satu orang tapi untuk semua orang di dunia ini. Agama yang akan menyelamatkanmu.”
“Aku tidak menyukai basa-basimu anak lancang!” Teriak Prabu Pucuk Umun dengan lantang dan menggelegar, dan dari arah depan tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, tampak Syarif Hidayatullah mundur beberapa langkah, sedangkan Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan memasang kuda-kuda untuk menggempur serangan Prabu Pucuk Umun.
Pertarungan itu begitu dahsyatnya hingga Prabu Siliwangi dan Raden Kian Santang pun bersemedi memberikan energi kepada Syarif Hidayatullah.
Prabu Pucuk Umun merasakan panas yang teramat sangat, dia mengetahui bahwa serangannya telah berbalik arah kepadanya, dan dengan menggunakan Ilmu Lurus Bumi, Prabu Pucuk Umun melarikan diri, namun dengan sigap Pangeran Aseupan dan Pangeran Pulosari mengejarnya. Dengan menggunakan ilmu yang sama terjadilah kejar-kejaran antara ketiganya. Dan akhirnya, di puncak Gunung Karang, Prabu Pucuk Umun tertangkap, atas restu Prabu Siliwangi, Prabu Pucuk Umun tidak dibunuh, tapi dimasukan ke kerangkeng di bawah kawah Gunung Krakatau.
Prabu Pucuk Umun memiliki putri yang cantik dan juga memiliki kesaktian yang tidak kalah dengan ayahnya, bahkan lebih dari 1000 Jin di bawah pengaruhnya, dan dia bernama Ratu Kawunganten, Putri Prabu Pucuk Umun yang kemudian diperistri oleh Syarif Hidayatullah. Ratu Kawunganten pun masuk Islam dan berganti nama menjadi Siti Badariah.
Tidak berapa lama, Siti Badariah atau Ratu Kawunganten pun hamil, namun dia mengidam hal yang tidak wajar menurut pemikiran Syarif Hidayatullah, dia menginginkan daging manusia. Sontak, Syarif Hidayatullah pun kaget dan marah. “Isteriku, kau telah menganut agama Islam, keinginanmu itu terlarang.” Tandas Syarif Hidayatullah.
Namun isterinya tetap menginginkan daging manusia, dan Syarif Hidayatullah tak bisa berbuat banyak, beliau sangat marah dan meninggalkan isterinya dalam keadaan hamil dan kembali ke Cirebon.
Sepeninggal Syarif Hidayatullah, Siti Badariah atau Ratu Kawunganten kembali ke agama leluhurnya yaitu Agama Sunda Wiwitan, agama yang sudah menjadi darah dan dagingnya.
Ratu Kawunganten atau Siti Badariah pun melahirkan seorang putra, dan diberi nama Pangeran Sabakingking, seorang Pangeran yang suatu saat mendirikan Kesultanan Banten
Pangeran Sabakingking beranjak dewasa, dan dia menjadi pemuda yang gagah, pemuda yang keras, berani dan memiliki kesaktian yang luar biasa, ilmu-ilmu kesaktian ibunya mengalir ke tubuhnya, lebih dari 1000 Jin takluk atas perintahnya. Pangeran Sabakingking tak pernah merasa takut kepada siapapun, dan hampir semua pendekar di tanah Banten pernah berhadapan dengannya.
Suatu hari, Pangeran Sabakingking dipanggil ibunya, karena ia harus mengetahui siapa ayahnya, Sabakingking pun menghadap ibunya.“Anakku, kau sudah dewasa dan sudah saatnya kau mengetahui siapa ayahmu. Ia berada di Cirebon dan telah menjadi Sultan di sana. Jika kau ke sana berikan tasbih ini kepadanya. Tasbih inilah yang dulu menjadi mahar perkawinan ibu dengan ayahmu.
Pergilah Pangeran Sabakingking menuju utara melewati hutan dan sungai, bukit bahkan gunung di tempat yang dituju Pangeran Sabankingking langsung menuju kesultanan Cirebon.
Di Kesultanan Cirebon itulah Pangeran Sabakingking melihat sebuah perbedaan yang mendasar. Terdengar suara adzan, serta alunan al Quran yang asing baginya, namun begitu menyejukkan hatinya. Tak berapa lama bertemulah Pangeran Sabakingking dengan seorang tua berjanggut panjang dengan mengenakan sorban. Orang tua itu tampak berwibawa dan memiliki sorot mata yang tajam. “Anak muda, ada keperluan apa kau ke sini? Tanya orang tua yang tak lain adalah Syarif Hidyayatullah itu.“Aku ingin bertemu dengan Syarif Hidayatullah dan menyerahkan tasbih ini dari ibuku.” Tasbih itu pun diterima Syarif Hidayatullah sembari menerawangkan matanya. “Apakah kau anak Kawunganten?” “Benar! Aku Sabakingking Putra Kawunganten!”
“Akulah Syarif Hidayatullah yang kaucari anak muda. Namun aku tidak begitu saja mengakui kau sebagai anakku, sebab ada syarat yang harus kau laksanakan.” “Apa itu?” Buatlah sebuah bangunan masjid lengkap dengan menaranya di Banten. Tapi ingat, hanya 1 malam saja. Jika sampai muncul matahari dan perkerjaanmu belum selesai, jangan harap aku akan mengakui kau sebagai anakku.” Ujar Syarif Hidayatullah. “Baiklah! aku akan melaksanakan perintahmu.” Jika sudah selesai, kumandangkan adzan yang dapat kau dengar dari menaranya. Ingat, hanya dalam waktu 1 malam saja!”
Setelah mendengar perintah ayahnya, Pangeran Sabakingking bergegas meninggalkan Cirebon untuk kembali ke Banten. Setelah sampai di Banten diceritakanlah semua yang dialami selama di Cirebon kepada ibunya. Ibunya maphum dan bersedia membantu anaknya. Dipanggilah lebih dari 1000 jin sakti untuk membantu Pangeran Sabakingking, dan tepat saat matahari terbenam mereka mulai membangun fondasi Masjid di pesisir Banten. Semua bekerja dengan berbagai ilmu, lebih dari 1000 Jin dikerahkan, dan mendekati matahari terbit menara pun baru selesai. Saat itulah Pangeran Sabakingking menaiki menara dan mengumandangkan Adzan seperti apa yang ia dengar di Kesultanan Cirebon, dan dengan tenaga dalam yang nyaris sempurna, terdengarlah alunan adzan yang menggema hingga ke seluruh alam.
Mendengar suara adzan yang memiliki kekuatan yang luar biasa itu, Syarif Hidayatullah pun keluar dari keraton Kesultanan Cirebon dan segera memperhatikan arah suara itu, yang tak salah lagi itu adalah suara anaknya. Dan dengan ilmu Sancang, ilmu berlari cepat yang sulit diterima akal manusia, yang dimilikinya, hanya dalam waktu beberapa menit saja tibalah Syarif Hidayatullah ke Mesjid yang dibangun anaknya tersebut dan melakukan sholat subuh di sana.
Pangeran Sabakingking mengetahui datangnya seseorang yang masuk ke Mesjidnya, dan dia bergegas menuju ke dalam. Alangkah kagetnya Pangeran Sabakingking saat ternyata dihadapannya adalah Syarif Hidayatullah, ayahnya. “Anakku. Kau telah membangun Mesjid ini dengan baik, Mesjid ini akan menjadi pusat penyebaran agama yang kubawa dan kau adalah pemimpinnya. Mulai hari ini namamu adalah Hasanudin. Dan bangunlah Kesultanan di sini, syiarkan Islam kepada rakyatmu.
Hasanudin pun membangun keraton di sekitar masjid yang dibangunnya, yang tidak berapa lama berdirilah keraton lengkap dengan singgasananya, untuk membantu penyebaran Islam di Banten, dan Syarif Hidayatullah memerintahkan rakyatnya untuk ikut membangun Banten. Berduyun-duyunlah rakyat Cirebon menuju Banten. Mereka disambut rakyat Banten dengan antusias, seakan-akan perbauran antara rakyat Cirebon dan penduduk asli itu seperti halnya perpaduan antara Muhajirin dan Anshor jaman Nabi Muhammad. Budaya dan bahasa yang hampir sama dengan Cirebon merupakan bukti otentik yang terwariskan hingga saat ini.
Sementara itu, Padjajaran setelah mangkatnya prabu Siliwangi pecah menjadi jadi dua kerajaan yaitu Kerajaan Pakuan dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Pakuan di berikan kepada cucunya Ratu Dewata yang merupakan putri Raden Surawisesa yang dikenal dengan Pangeran Walangsungsang, salah seorang putra Prabu Siliwangi. Keinginan Kesultanan Cirebon untuk mengislamkan seluruh Kerajaan Padjajaran didukung penuh oleh Maulana Hasanudin, yang juga dibantu oleh putra mahkota yaitu Sultan Maulana Yusuf, yang merupakan hasil pernikahan Maulana Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana, Putri Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak. Selain Maulana Yusuf, Maulana Hasanudin memiliki putri bernama Ratu Pembayun yang menikah dengan Tubagus Angke putra Ki Mas Wisesa Adimarta dimana Tubagus Angke merupakan panglima perang Banten yang nantinya memiliki putra bernama Pangeran Jayakarta, yang kelak menjadi pajabat Kesultanan Banten di Jakarta, di mana nama Jakarta diambil dari namanya.
Kamis, 24 November 2016
HUKUM SHALAT JUM'AT DI JALAN
Bagaimana kalau saat demo melaksanakan shalat Jumat di jalan raya, diimami di jalan raya padahal masjid masih muat dan bisa menampung jamaah?
Syarat Sah dan Wajib Jumat
Para ulama memberikan syarat sahnya shalat jumat dilaksanakan. Di antara syarat yang disebutkan adalah mengenai syarat sah dan syarat wajib sekaligus. Artinya, jika syarat ini tidak ada, maka shalat jumatnya tidak sah dan tidak wajib dilaksanakan.
Syarat sah dan wajib Jumat yang sekaligus disebut oleh para ulama adalah :
- Tempat didirikan shalat Jumat adalah di masjid suatu negeri atau kampung yang berpenduduk.
- Mendapatkan izin dari sultan atau penguasa.
- Sudah masuk waktu pelaksanaan shalat zhuhur dan waktunya berlangsung terus hingga waktu ‘Ashar.
Syarat pertama disebutkan oleh madzhab Abu Hanifah. Dalam salah satu kitab pegangan dalam madzhab Abu Hanifah, Al-Mabsuth karya Abu Bakr Muhammad bin Abu Sahl As-Sarakhsi disebutkan,
لَا جُمُعَةَ وَلَا تَشْرِيقَ وَلَا فِطْرَ وَلَا أَضْحَى إلَّا فِي مِصْرٍ جَامِعٍ وَلِأَنَّ الصَّحَابَةَ حِينَ فَتَحُوا الْأَمْصَارَ وَالْقُرَى مَا اشْتَغَلُوا بِنَصْبِ الْمَنَابِرِ وَبِنَاءِ الْجَوَامِعِ إلَّا فِي الْأَمْصَارِ وَالْمُدُنِ وَذَلِكَ اتِّفَاقٌ مِنْهُمْ عَلَى أَنَّ الْمِصْرَ مِنْ شَرَائِطِ الْجُمُعَةِ
“Tidak ada Jum’at, tasyriq, Idul Fithri, Idul Adha, melainkan di lakukan di mishr jami’. Karena para sahabat ketika menaklukkan berbagai negeri dan kampung, mereka tidaklah sibuk dengan mendirikan mimbar dan membangun jami’ kecuali berada di negeri dan kampung. Karenanya mereka itu sepakat bahwa mishr jami’ itu merupakan syarat didirikannya shalat Jum’at.” (Al-Mabsuth, 2: 310, Asy-Syamilah)
Yang dimaksud dengan mishr jami’ disebutkan oleh Imam As-Sarakhsi,
حَدِّ الْمِصْرِ الْجَامِعِ أَنْ يَكُونَ فِيهِ سُلْطَانٌ أَوْ قَاضٍ لِإِقَامَةِ الْحُدُودِ وَتَنْفِيذِ الْأَحْكَامِ
“Batasan disebut mishr jami’ adalah yang di dalamnya ada sultan (penguasa) atau qadhi (kami) untuk menegakkan hukum hudud dan menjalankan hukum syari’at lainnya.”
Sedangkan madzhab lainnya tidak menyaratkan seperti ini.
Dalam madzhab Syafi’i disyaratkan, shalat Jumat yang penting dilakukan di dalam bangunan tertutup yang ada di negeri atau perkampungan.
Imam Asy-Syairazi dalam Al-Muhaddzab menyatakan,
ولا تصح الجمعة إلا في أبنية يستوطنها من تنعقد بهم الجمعة من بلد أو قرية
“Shalat Jumat tidaklah sah dilakukan kecuali di dalam bangunan yang di mana nantinya diisi oleh orang-orang yang sah mendirikan shalat jumat yang menetap di negeri atau kampung.”
Imam Nawawi menjelaskan,
سواء كان البناء من احجار أو أخشاب أو طين أو قصب أو سعف أو غيرها
“Bangunan tadi bisa jadi terbuat dari batu, kayu, tanah, batang yang beruas (seperti pada tebu, pen.), pelepah kurma, dan selainnya.” (Al-Majmu’, 4: 256-257)
Ulama Hambali menyatakan bahwa shalat di padang pasir pun masih sah.
Ibnu Qudamah rahimahullah (lahir tahun 541 H, meninggal dunia tahun 620 H) menyatakan,
وَلَا يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الْجُمُعَةِ إقَامَتُهَا فِي الْبُنْيَانِ ، وَيَجُوزُ إقَامَتُهَا فِيمَا قَارَبَهُ مِنْ الصَّحْرَاءِ .وَبِهَذَا قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : لَا تَجُوزُ فِي غَيْرِ الْبُنْيَانِ
“Tidak disyaratkan untuk sahnya jumat untuk dilakukan di masjid. Boleh saja melakukan shalat Jumat di tanah lapang yang dekat dengan bangunan. Demikian juga yang menjadi pendapat dalam madzhab Abu Hanifah. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh mengerjakan shalat Jumat selain di dalam gedung.” (Al-Mughni, 3: 209)
Ulama Malikiyah menyaratkan shalat Jumat dilaksanakan di tempat yang bisa menetap dalam waktu yang lama, bisa dilakukan dalam gedung atau rumah dari kayu (gubug). Namun tidak boleh shalat Jumat tersebut dilakukan di kemah karena bukan tempat yang layak untuk menetap dalam waktu yang lama.
Kalau kita perhatikan dari pendapat yang ada, berarti yang menyaratkan shalat dalam bangunan hanyalah madzhab Syafi’i. Sedangkan madzhab Hambali dan Abu Hanifah masih membolehkan di luar masjid. Adapun madzhab Malikiyah berpendapat bahwa asalkan tempatnya layak untuk tinggal, boleh didirikan shalat Jumat.
Sehingga dalam madzhab Syafi’i sendiri -sebagaimana yang dianut di negeri kita- mengenai shalat di jalan jelas tidak dibolehkan karena dipersyaratkan shalat Jumat mesti dalam bangunan.
Mengenai Hukum Shalat di Jalan
Adapun mayoritas ulama masih membolehkan shalat di jalan karena dengan alasan keumuman hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ
“Semua tempat di muka adalah masjid kecuali kuburan dan tempat pemandian.” (HR. Tirmidzi, no. 317; Ibnu Majah, no. 745; Abu Daud, no. 492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Adapun hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يُصَلَّى فِى سَبْعَةِ مَوَاطِنَ فِى الْمَزْبَلَةِ وَالْمَجْزَرَةِ وَالْمَقْبُرَةِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَفِى الْحَمَّامِ وَفِى مَعَاطِنِ الإِبِلِ وَفَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ اللَّهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat di tujuh tempat: (1) tempat sampah, (2) tempat penyembelihan hewan, (3) pekuburan, (4) tengah jalan, (5) tempat pemandian, (6) tempat menderumnya unta, (7) di atas Ka’bah.” (HR. Tirmidzi, no. 346; Ibnu Majah, no. 746. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menilai hadits ini dha’if dalam Minhah Al-‘Allam, 2: 352-353)
Kalau hadits kedua di atas dha’if, berarti masih dibolehkan shalat di tujuh tempat di atas kecuali jika ada dalil shahih yang melarang seperti shalat di pekuburan, tempat pemandian dan tempat menderumnya unta.
Ulama madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah menganggap bahwa dimakruhkan (terlarang) shalat di jalan. Al-Khatib Asy-Syarbini, salah seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i menyatakan bahwa sebab dilarangnya shalat di jalan adalah karena dapat mengganggu kepentingan umum, menghalangi orang untuk lewat hingga kurangnya khusyu’. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 27: 114)
Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Yang utama tidaklah shalat di jalan. Akan tetapi jika ada hajat untuk shalat di tengah jalan, maka tidaklah masalah. Seperti misalnya masjid sangatlah sempit asalkan menggunakan alas saat itu.” (Minhah Al-‘Allam, 2: 356)
Kesimpulan, shalat Jumat baiknya dilakukan di masjid, bukan di jalan raya (seperti yang dilakukan oleh para pendemo) yang akan mengganggu kepentingan umum, lebih-lebih masjid sekitar masih muat menampung jama’ah. Beda halnya kalau masjid tidak bisa memuat jama’ah yang jumlahnya jutaan. Baca lagi berulang pembahasan di atas.
Wallahu a’lam. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Sumber : www.rumahsyo.com
Senin, 21 November 2016
AKSI BELA ISLAM JILID 3 TANGGAL 2 DESEMBER
Walaupun polisi telah menetapkan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama telah ditetapkan sebagai tersangka tetapi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) Majelis Ulama Indonesia menyatakan akan kembali melakukan aksi-aksi besar-besar 2 Desember. Aksi ini merupakan aksi damai dengan misi persatuan dan kesatuan negara Indonesia.
JAKARTA —
Meski polisi telah menetapkan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama, umat Islam berencana menggelar Aksi Bela Islam III pada 2 Desember mendatang.
Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Rabu lalu menaikkan status perkara penistaan agama diduga dilakukan oleh Ahok ke tingkat penyidikan. Selain menetapkan Ahok sebagai tersangka, polisi juga mencegah dia ke luar negeri. Penetapan Ahok sebagai tersangka ini dilakukan sehari setelah polisi menggelar perkara kasusnya.
Namun dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (18/11), GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) Majelis Ulama Indonesia menyatakan tidak puas atas keputusan polisi itu. Melalui pernyataan sikap dibacakan juru bicaranya, Munarman, GNPF menuntut polisi segera menahan Ahok. GNPF beralasan para tersangka dalam kasus-kasus penistaan agama sebelumnya pun langsung ditangkap dan ditahan.
GNPF mempertanyakan mengapa Ahok mendapat perlakuan berbeda untuk kasus serupa. Munarman mengemukakan beberapa alasan kenapa Ahok harus segera ditahan. “Satu, sudah dinyatakan sebagai tersangka dengan ancaman lima tahun penjara sesuai pasal 156a KUHP. Dua, berpotensi melarikan diri walau sudah dicekal Mabes Polri. Tiga, berpotensi hilangkan barang bukti lainnya selain yang sudah disita oleh Polri. Empat, berpotensi mengulangi perbuatan sesuai sikap arogannya selama ini suka mencaci dan menghina ulama serta umat Islam,” ujar Munarman.
Munarman mencontohkan saat dinyatakan sebagai tersangka, menurut Munarman, Ahok menuding peserta Aksi Bela Islam II pada 4 November lalu dibayar Rp 500 ribu per orang. Alasan lain Ahok harus segera ditahan, tambah Munarman, pelanggaran hukum dilakukan Ahok telah membuat kegaduhan nasional dan internasional berdampak luas, serta menyebabkan korban luka dan meninggal. Bahkan, Munarman menegaskan perbuataan Ahok itu sangat berpotensi memecah belah bangsa dan negara Indonesia. Pembina GNPF Habib Rizieq Syihab menjelaskan Aksi Bela Islam III nanti akan dimulai dengan pembacaan doa, istighosah, maulid, dan salat Jumat dengan imam serta khatib di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Habib Rizieq memperkirakan peserta Aksi Bela Islam III akan lebih banyak dari sebelumnya, memenuhi jalan mulai Semanggi sampai depan istana presiden.
Ketua GNPF Bachtiar Nasir mengatakan Aksi Bela Islam III merupakan aksi damai dengan misi persatuan dan kesatuan negara Indonesia. “Kepada saudara-saudaraku dari kalangan non-muslim, kalian adalah saudara kami sesama warga negara Indonesia dan kami cinta kalian semua. Kepada saudara-saudaraku dari China, kita adalah warga negara Indonesia mempunyai hak sama. Kami tidak marah pada Anda, justru kami kecewa dan kami marah pada orang-orang dan kelompok-kelompok memecah belah kita. Pemodal-pemodal dengan menempatkan aktor-aktor politik, dengan menggunakan tangan-tangan keamanan yang mengganggu keharmonian kita sesama umat beragama, yang mengganggu keharmonian kita sesama warga negara Indonesia,” ujar Bachtiar Nasir. Sementara itu, Jumat pagi, Tentara Nasional Indonesia, Polri dan masyarakat melakukan istighosah dan doa bersama di Monumen Nasional. Acara tersebut juga dihadiri ribuan anak yatim piatu. Doa digelar sebagi ungkapan rasa syukur dan bertujuan agar terciptanya kedamaian , keselamatan serta persatuan dan kesatuan bangsa.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Wuryanto menjelaskan doa bersama ini bukan hanya dilakukan oleh umat Islam tetapi juga agama lain. “Mudah-mudahan dengan acara doa bersama ini , lintas agama semua tergerak memohon kedamaian di Indonesia,” ujar Kapuspen TNI, Mayjen TNI Wuryanto. Doa bersama juga digelar di gereja Katedral Jakarta dan tempat ibadah lainnya. Para jemaat juga melakukan doa bersama anggota TNI angkatan darat, laut dan udara.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia ignasius Surharyo mengatakan sangat menghargai adanya doa lintas agama yang di prakarsai oleh Panglima TNI.
Sumber:VOAislam
Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Rabu lalu menaikkan status perkara penistaan agama diduga dilakukan oleh Ahok ke tingkat penyidikan. Selain menetapkan Ahok sebagai tersangka, polisi juga mencegah dia ke luar negeri. Penetapan Ahok sebagai tersangka ini dilakukan sehari setelah polisi menggelar perkara kasusnya.Namun dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (18/11), GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) Majelis Ulama Indonesia menyatakan tidak puas atas keputusan polisi itu. Melalui pernyataan sikap dibacakan juru bicaranya, Munarman, GNPF menuntut polisi segera menahan Ahok. GNPF beralasan para tersangka dalam kasus-kasus penistaan agama sebelumnya pun langsung ditangkap dan ditahan.
GNPF mempertanyakan mengapa Ahok mendapat perlakuan berbeda untuk kasus serupa. Munarman mengemukakan beberapa alasan kenapa Ahok harus segera ditahan. “Satu, sudah dinyatakan sebagai tersangka dengan ancaman lima tahun penjara sesuai pasal 156a KUHP. Dua, berpotensi melarikan diri walau sudah dicekal Mabes Polri. Tiga, berpotensi hilangkan barang bukti lainnya selain yang sudah disita oleh Polri. Empat, berpotensi mengulangi perbuatan sesuai sikap arogannya selama ini suka mencaci dan menghina ulama serta umat Islam,” ujar Munarman.
Munarman mencontohkan saat dinyatakan sebagai tersangka, menurut Munarman, Ahok menuding peserta Aksi Bela Islam II pada 4 November lalu dibayar Rp 500 ribu per orang. Alasan lain Ahok harus segera ditahan, tambah Munarman, pelanggaran hukum dilakukan Ahok telah membuat kegaduhan nasional dan internasional berdampak luas, serta menyebabkan korban luka dan meninggal. Bahkan, Munarman menegaskan perbuataan Ahok itu sangat berpotensi memecah belah bangsa dan negara Indonesia. Pembina GNPF Habib Rizieq Syihab menjelaskan Aksi Bela Islam III nanti akan dimulai dengan pembacaan doa, istighosah, maulid, dan salat Jumat dengan imam serta khatib di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Habib Rizieq memperkirakan peserta Aksi Bela Islam III akan lebih banyak dari sebelumnya, memenuhi jalan mulai Semanggi sampai depan istana presiden.
Ketua GNPF Bachtiar Nasir mengatakan Aksi Bela Islam III merupakan aksi damai dengan misi persatuan dan kesatuan negara Indonesia. “Kepada saudara-saudaraku dari kalangan non-muslim, kalian adalah saudara kami sesama warga negara Indonesia dan kami cinta kalian semua. Kepada saudara-saudaraku dari China, kita adalah warga negara Indonesia mempunyai hak sama. Kami tidak marah pada Anda, justru kami kecewa dan kami marah pada orang-orang dan kelompok-kelompok memecah belah kita. Pemodal-pemodal dengan menempatkan aktor-aktor politik, dengan menggunakan tangan-tangan keamanan yang mengganggu keharmonian kita sesama umat beragama, yang mengganggu keharmonian kita sesama warga negara Indonesia,” ujar Bachtiar Nasir. Sementara itu, Jumat pagi, Tentara Nasional Indonesia, Polri dan masyarakat melakukan istighosah dan doa bersama di Monumen Nasional. Acara tersebut juga dihadiri ribuan anak yatim piatu. Doa digelar sebagi ungkapan rasa syukur dan bertujuan agar terciptanya kedamaian , keselamatan serta persatuan dan kesatuan bangsa.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Wuryanto menjelaskan doa bersama ini bukan hanya dilakukan oleh umat Islam tetapi juga agama lain. “Mudah-mudahan dengan acara doa bersama ini , lintas agama semua tergerak memohon kedamaian di Indonesia,” ujar Kapuspen TNI, Mayjen TNI Wuryanto. Doa bersama juga digelar di gereja Katedral Jakarta dan tempat ibadah lainnya. Para jemaat juga melakukan doa bersama anggota TNI angkatan darat, laut dan udara.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia ignasius Surharyo mengatakan sangat menghargai adanya doa lintas agama yang di prakarsai oleh Panglima TNI.
Sumber:VOAislam
Rabu, 16 November 2016
3 Adzab yang Akan Diterima Jika Menghina Ulama
Akhir-akhir ini ada sebagian orang yang suka mendiskreditkan 1 atau sekelompok ulama. Kemudian mereka meninggalkan dan tidak mengambil pendapat atau fatwa mereka, serta berlepas diri dari bimbingan mereka… Lalu apa dampak dan resikonya? Padahal di sebutkan di dalam satu hadits, para Ulama ini adalah “Delegasi” Allah di muka bumi atas makhluknya. Merekalah yang mewarisi ilmu dari para Nabi.
Jika benar manusia sekarang sudah lari dan menjauhi ulama’ maka ada 3 adzab yang menimpa umat ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits
سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِم اللهُتَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ:
Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka lari menjauhi ulama’ dan fuqoha’ (ahli fiqih), maka Allah menurunkan tiga bala’ untuk mereka.
Pertama
اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ
Allah menghilangkan barokah dari usaha mereka
Benarkah saat ini mencari harta yang barokah sulit? Kalau tidak benar kenapa para konglomerat nakal, para pejabat korup yang sudah berharta trilyunan masih gila harta, masih memakan harta rakyat? Jawabnya Karena hartanya sudah tidak barokah. Hasil usaha yang tidak barokah pasti membawa dampak negatif, bila dimakan tidak menambah kenyang tapi malah kurang dan semakin rakus. Makanan yang masuk menyebabkan tubuh malas beribadah, dan kebanyakan berakhir menjadi suatu penyakit. Harta yang tidak barokah bila digunakan untuk biaya pendidikan anak bukannya menjadikan anak semakin baik melainkan malah menjadi semakin buruk, digunakan berfoya-foya, zina, narkoba, setidaknya menyebabkan anak berani terhadap orang tua. Lantas jika ingin selamat dari harta yang tidak barokah jalan satu-satunya adalah mendekat pada para ulama’.
Kedua
وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا
Allah mengangkat penguasa untuk mereka, penguasa yang dlolim. Akibat jauh dari para ulama’,
banyak diantara kita memilih pemimpin, pejabat, anggota dewan bukan lagi atas dasar kemampuannya berbuat adil tetapi karena ketenarannya, atau karena obral janjinya, atau karena obral hartanya. Sehingga ketika menjabat mereka bukannya menjadi pengayom rakyat, pembawa suara rakyat, malah memakan harta rakyat.
Ketiga
وَالثَّالِثَةُ يَخْرُج. ُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَان ٍ
Mereka keluar dari dunia (mati) dalam keadaan tanpa iman.
Dengan kata lain Su’ul Khatimah. Dan inilah Azab yang paling ditakutkan, naudzu billahi min dzalik. Jika hal ini terjadi maka kesengsaraan yang dialami bukan tahunan melainkan kekal selama-lamanya disiksa di api neraka. Oleh karena itu, Bila menghormati para ulama diperintahkan, maka sebaliknya menghina dan merendahkan mereka dilarang, sungguh betapa mengerikan jika ada seorang muslim berani menghina Ulama Shalafus Shalih,
ingin tahu bahayanya lainnya??
1. Menghina ulama akan menyebabkan rusaknya agama Berkata Al-Imam Ath-Thahawi –rahimahullah- : “Ulama salaf dari kalangan ulama terdahulu, demikian pula para tabi’in, harus disebut dengan kebaikan. Maka siapa yang menyebut mereka dengan selain kebaikan maka dia berada di atas kesesatan” Berkata Al-Imam Ibnul Mubarak –rahimahullah- : “Siapa yang melecehkan ulama, akan hilang akhiratnya. Siapa yang melecehkan umara’ (pemerintah), akan hilang dunianya. Siapa yang melecehkan teman-temannya, akan hilang kehormatannya” Dan mencela ulama termasuk diantara dosa-dosa besar.
2. Orang yang menghina ulama sama artinya dia mengumumkan perang kepada Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang wali Alloh yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari -rahimahullah- dari Abu Hurairah –radhiyallohu ‘anhu- :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْآذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ – …رواه البخاري
Dari Abu Hurairah”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya…[HR. Al Bukhari] Dan para ulama, mereka adalah termasuk wali-wali Allah.
3. Orang yang menghina ulama sengaja mencampakkan dirinya untuk terkena do’a dari seorang alim yang terzhalimi. Hal ini sebagaimana kisah salah seorang Shahabat yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqash –radhiyallohu ‘anhu- dan beliau termasuk salah seorang dari 10 Shahabat yang dijamin dengan Surga.
4. Orang yang mencibir para ulama maka ia akan dijerumuskan kepada apa yang ia tuduhkan kepada ulama itu. Berkata Ibrahim An-Nakha-i –rahimahullah- : “Aku mendapati dalam jiwaku keinginan untuk membicarakan aib seseorang; akan tetapi yang mencegahku dari membicarakannya adalah aku khawatir jika aib orang itu ternyata menimpa diriku”
5. Orang yang merasa lezat dengan meng-ghibah para ulama maka ia akan diberikan su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek) Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini dikarenakan dia suka mencibir Al-Imam An-Nawawi.
6. Daging para ulama itu beracun Berkata Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- : “Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”
7. Mencela ulama merupakan sebab terbesar bagi seseorang untuk terhalangi dari dapat mengambil faidah dari ilmu para ulama. Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- : “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majelis-majelisnya para ulama.” Demikianlah dampak bahayanya menjauh, terlebih membenci dan meninggalkan diri dari bimbingan para ulama. Semoga kita Allah persatukan di bawah bimbingan para Ulama Billah wa Fillah. Dan tidak di kelompokkan menjadi para pembenci kekasih-kekasih kekasih Allah.
Sumber: Thariqah Alawiyah Plus
Jika benar manusia sekarang sudah lari dan menjauhi ulama’ maka ada 3 adzab yang menimpa umat ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits
سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِم اللهُتَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ:
Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka lari menjauhi ulama’ dan fuqoha’ (ahli fiqih), maka Allah menurunkan tiga bala’ untuk mereka.
Pertama
اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ
Allah menghilangkan barokah dari usaha mereka
Benarkah saat ini mencari harta yang barokah sulit? Kalau tidak benar kenapa para konglomerat nakal, para pejabat korup yang sudah berharta trilyunan masih gila harta, masih memakan harta rakyat? Jawabnya Karena hartanya sudah tidak barokah. Hasil usaha yang tidak barokah pasti membawa dampak negatif, bila dimakan tidak menambah kenyang tapi malah kurang dan semakin rakus. Makanan yang masuk menyebabkan tubuh malas beribadah, dan kebanyakan berakhir menjadi suatu penyakit. Harta yang tidak barokah bila digunakan untuk biaya pendidikan anak bukannya menjadikan anak semakin baik melainkan malah menjadi semakin buruk, digunakan berfoya-foya, zina, narkoba, setidaknya menyebabkan anak berani terhadap orang tua. Lantas jika ingin selamat dari harta yang tidak barokah jalan satu-satunya adalah mendekat pada para ulama’.
Kedua
وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا
Allah mengangkat penguasa untuk mereka, penguasa yang dlolim. Akibat jauh dari para ulama’,
banyak diantara kita memilih pemimpin, pejabat, anggota dewan bukan lagi atas dasar kemampuannya berbuat adil tetapi karena ketenarannya, atau karena obral janjinya, atau karena obral hartanya. Sehingga ketika menjabat mereka bukannya menjadi pengayom rakyat, pembawa suara rakyat, malah memakan harta rakyat.
Ketiga
وَالثَّالِثَةُ يَخْرُج. ُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَان ٍ
Mereka keluar dari dunia (mati) dalam keadaan tanpa iman.
Dengan kata lain Su’ul Khatimah. Dan inilah Azab yang paling ditakutkan, naudzu billahi min dzalik. Jika hal ini terjadi maka kesengsaraan yang dialami bukan tahunan melainkan kekal selama-lamanya disiksa di api neraka. Oleh karena itu, Bila menghormati para ulama diperintahkan, maka sebaliknya menghina dan merendahkan mereka dilarang, sungguh betapa mengerikan jika ada seorang muslim berani menghina Ulama Shalafus Shalih,
ingin tahu bahayanya lainnya??
1. Menghina ulama akan menyebabkan rusaknya agama Berkata Al-Imam Ath-Thahawi –rahimahullah- : “Ulama salaf dari kalangan ulama terdahulu, demikian pula para tabi’in, harus disebut dengan kebaikan. Maka siapa yang menyebut mereka dengan selain kebaikan maka dia berada di atas kesesatan” Berkata Al-Imam Ibnul Mubarak –rahimahullah- : “Siapa yang melecehkan ulama, akan hilang akhiratnya. Siapa yang melecehkan umara’ (pemerintah), akan hilang dunianya. Siapa yang melecehkan teman-temannya, akan hilang kehormatannya” Dan mencela ulama termasuk diantara dosa-dosa besar.
2. Orang yang menghina ulama sama artinya dia mengumumkan perang kepada Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang wali Alloh yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari -rahimahullah- dari Abu Hurairah –radhiyallohu ‘anhu- :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْآذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ – …رواه البخاري
Dari Abu Hurairah”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya…[HR. Al Bukhari] Dan para ulama, mereka adalah termasuk wali-wali Allah.
3. Orang yang menghina ulama sengaja mencampakkan dirinya untuk terkena do’a dari seorang alim yang terzhalimi. Hal ini sebagaimana kisah salah seorang Shahabat yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqash –radhiyallohu ‘anhu- dan beliau termasuk salah seorang dari 10 Shahabat yang dijamin dengan Surga.
4. Orang yang mencibir para ulama maka ia akan dijerumuskan kepada apa yang ia tuduhkan kepada ulama itu. Berkata Ibrahim An-Nakha-i –rahimahullah- : “Aku mendapati dalam jiwaku keinginan untuk membicarakan aib seseorang; akan tetapi yang mencegahku dari membicarakannya adalah aku khawatir jika aib orang itu ternyata menimpa diriku”
5. Orang yang merasa lezat dengan meng-ghibah para ulama maka ia akan diberikan su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek) Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini dikarenakan dia suka mencibir Al-Imam An-Nawawi.
6. Daging para ulama itu beracun Berkata Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- : “Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”
7. Mencela ulama merupakan sebab terbesar bagi seseorang untuk terhalangi dari dapat mengambil faidah dari ilmu para ulama. Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- : “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majelis-majelisnya para ulama.” Demikianlah dampak bahayanya menjauh, terlebih membenci dan meninggalkan diri dari bimbingan para ulama. Semoga kita Allah persatukan di bawah bimbingan para Ulama Billah wa Fillah. Dan tidak di kelompokkan menjadi para pembenci kekasih-kekasih kekasih Allah.
Sumber: Thariqah Alawiyah Plus
Sabtu, 12 November 2016
AL-QA'QA' BIN AMR AT-TAMIMI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Mendengar namanya, para penyamun dari suku-suku Badui di kawasan Jazirah Arab langsung tunggang langgang melarikan diri. Hingga demikian tak satu pun dapat lolos dari kejarannya. Inilah kesatria dari suku Bani Tamim, Al-Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi.
Al-Qaqa bin Amr ini memang dikenal di kalangan kaumnya sebagai kesatria yang hebat. Keahliannya dalam memainkan pedang dan seni perang serta keahliannya berkuda tak ada yang meragukan kemampuannya ini. Inilah keahlian yang menjadi kebanggaan setiap pria di Jazirah Arab. Keahliannyalah yang mengantarkan dirinya menempati posisi terhormat di kalangan kaumnya dan suku-suku lain.
Pada tahun 9 H, di suasana yang tenang ini, suku-suku Arab terus berbondong-bondong mendatangi Rasulullah di Madinah. Berbaiat menyatakan sumpah setia memeluk Islam, termasuk suku Tamim. Al-Qa'qa' bin Amr yang memang seorang kesatria dan ahli dalam bidang syair di kalangan suku Tami mini, seperti mendapatkan pengalaman baru saat melihat fenomena yang langka ini—bahkan tak pernah terjadi—yang menyejukkan jiwanya di Masjid Nabawi. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an membuatnya tertegun. Inilah awal pengalaman spiritual dari seorang kesatria yang hebat, Al-Qa'qa' bin Amr.
Maka saat ia bersama rombongan suku Tamim bertatap muka dengan Rasulullah, jiwanya bergetar. Pancaran keagungan Rasul dan untaian katanya mengetuk jiwa Al-Qa'qa' bin Amr. Hatinya pun mulai terbuka untuk menerima hidayah Ilahi. Saat itulah tanpa ragu Al-Qa'qa' bin Amr berikrar dan bersyahadat di depan Rasulullah. Sekembalinya dari Madinah, Al-Qa'qa' bin Amr bersama keluarga dan kaumnya memeluk Islam. Sayang, Al-Qa'qa' bin Amr tak sempat untuk ikut serta dalam menunaikan ibadah haji wada’ karena harus merawat ibunya yang menderita sakit.
Namun begitu, hatinya selalu diliputi kerinduan yang mendalam untuk belajar dan mengabdi kepada Rasulullah di Madinah. Sejak berada di Madinah, Al-Qa'qa' bin Amr tak pernah absen untuk menghadiri majelis Rasulullah. Ia sadar dirinya memeluk Islam dengan sangat terlambat.
Sebagai seorang kesatria suku Tamim, Al-Qa'qa' bin Amr mendapat tugas melatih seni militer kaum Muslimin di kawasan luar kota Madinah. Inilah pasukan yang dipersiapkan oleh Rasulullah di akhir hayatnya. Sebuah pasukan yang dipimpin sahabat termuda Usamah bin Zaid.
Namun kebersamaan Al-Qa'qa' bin Amr dengan Rasulullah tak beralangsung lama. Pada tahun 11 H, Rasulullah wafat menghadap Allah Yang Maha Esa. Dan inilah yang membuat dirinya larut dalam kesedihan bersama sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.
Di masa pemerintahan Abu Bakar yang menjadi khalifah pertama dalam Islam ini, Al-Qa'qa' bin Amr tampil cemerlang di berbagai medan jihad. Hingga akhirnya Al-Qa'qa' bin Amr menjadi satu-satunya orang yang dikirim oleh khalifah Abu Bakar sebagai bala bantuan kepada Khalid yang tengah menghadapi kesulitan, karena sebagian besar pasukannya memilih untuk beristirahat daripada berperang melawan Persia. Di sinilah ketangkasan Al-Qa'qa' bin Amr benar-benar teruji seperti yang dikatakan oleh khalifah Abu Bakar, “Seorang qaqa berbanding dengan 1.000 pasukan.” Kaum Muslimin pun meraih kemenangan gemilang dan berhasil menguasai kawasan Hirah di Iraq.
Nama Al-Qa'qa' bin Amr semakin menjadi perbincangan di kalangan kaum Muslimin setelah dirinya membuat gentar pasukan Romawi dalam Perang Yarmuk di Syam. Bersama Ikrimah bin Abu Jahal, Al-Qa'qa' bin Amr berhasil membakar semangat kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Romawi, hingga akhirnya meraih kemenangan. Kemenangan yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai tonggak yang membuka gerbang bagi penaklukan-penaklukan Muslimin di luar Jazirah Arab.
Pada tahun 13 H, di suasana yang mengharukan ini, khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia menghadap Allah Yang Maha Esa. Selanjutnya, kekhalifahan pun beralih ke tangan Umar bin Al-Khattab yang menjadi khalifah kedua dalam Islam. Amirul Mukminin Umar pun mengirim bala bantuan untuk pasukan Sa’ad bin Abu Waqqash untuk menaklukkan kota Madain, tempat singgasana Raja Persia ini dan sekaligus menjadi ibukota Persia. Amirul Mukminin Umar mengirim Al-Qa'qa' bin Amr yang tengah berada di Syam yang sedang berperang melawan pasukan Romawi agar bergerak ke Iraq menyusul pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abu Waqqash.
Qadisiyah merupakan kawasan yang menjadi gerbang menuju benteng Jalaula yang merupakan benteng kota Madain, ibukota Persia. Di Qadisiyah ini, Kaum Muslimin terlibat pertempuran yang sangat dahsyat melawan pasukan Persia. Al-Qa'qa' bin Amr yang baru tiba di medan qadisiyah ini, langsung menggebrak hingga membuat nyali Persia menjadi ciut.
Sa’ad bin Abu Waqqash yang tengah menderita sakit dan hanya bisa mengatur pertempuran di sebuah tenda besar, segera memberi perintah kepada Al-Qa'qa' bin Amr dan saudaranya, Asim untuk menangani gajah putih yang selalu membuat kekacauan di barisan kaum Muslimin.
Benar saja, dengan ketangkasannya Al-Qa'qa' bin Amr dan saudaranya berhasil melempar tombak tepat mengenai sasarannya, yaitu di kedua mata gajah itu. Inilah yang mengawali kemenangan kaum Muslimin dalam perang yang menentukan atas kemenangan melawan pasukan Persia.
Al-Qa'qa' bin Amr kemudian bergerak ke benteng jalaula yang merupakan gerbang Madain. Di medan jalaula ini, Al-Qa'qa' bin Amr kembali memperlihatkan taringnya sebagai ahli perang. Dia dan pasukannya dari suku Tamim kembali mendobrak musuh hingga membuat Persia terkesima dengan kehebatannya.
Akhirnya dengan jatuhnya benteng jalaula ini, secara praktis membuat kaum Muslimin dengan mudah menaklukkan kota Istana Putih ini yang merupakan tempat singgasana Raja Persia. Dengan begitu, secara otomatis negeri yang kaya raya ini jatuh ke tangan kaum Muslimin.
Al-Qa'qa' bin Amr memang kesatria tanpa tanding. Namun, berkat kecerdasan dan ketulusannya terhadap agama, membuat dirinya semakin mantap dan sempurna. Itulah mengapa khalifah Utsman bin Affan mengangkatnya sebagai seorang gubernur di Armenia. Ketegasannya sebagai pemimpin menjadi modal utamanya untuk berlaku adil dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi di masyarakatnya.
Sejak wafatnya khalifah utsman bin Affan, Al-Qa'qa' bin Amr tetap setia mengabdi kepada khalifah yang dibaiat kaum Muslimin. Itulah mengapa ia begitu setia menjadi pendamping Ali bin Abu Thalib dan terus mengawal kekhalifahan yang sah yang dibaiat kaum Muslimin.
Al-Qa'qa' bin Amr adalah orang yang sangat rajin untuk mengasah kemampuan dirinya sehingga dia menjadi orang yang hebat di lapangan. Mungkin Al-Qa'qa' bin Amr tidak dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli Al-Qur’an, tetapi Al-Qa'qa' bin Amr benar-benar hadir sebagai orang yang mempunyai keistimewaan di mana orang lain susah mencari keistimewaan itu. Hal itu harus kita miliki, karena kita mungkin tidak menguasai banyak hal, tetapi kuasailah satu hal saja yang menurut kita, kita mampu melakukannya yang dengan itu kelak kita akan dengan mudah menjawab pertanyaan Allah saat kita hadir di hadapan-Nya bahwa kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Berakhirnya masa kekhalifahan Hasan bin Ali, dan beralihnya kekhalifan ke tangan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Al-Qa'qa' bin Amr memutuskan untuk mengndurkan diri dan pindah ke wilayah Mesir, hingga ia wafat pada tahun 40 H. Dialah potret Muslim yang sejati yang mengedepankan keberanian, kejujuran, dan ketulusan serta kesetiaannya kepada agama yang diridhai oleh Allah ini dan kepada Rasulullah. semoga Allah meridhaimu wahai Al-Qa'qa' bin Amr.
sumber: ROTIBAYN
Mendengar namanya, para penyamun dari suku-suku Badui di kawasan Jazirah Arab langsung tunggang langgang melarikan diri. Hingga demikian tak satu pun dapat lolos dari kejarannya. Inilah kesatria dari suku Bani Tamim, Al-Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi.
Al-Qaqa bin Amr ini memang dikenal di kalangan kaumnya sebagai kesatria yang hebat. Keahliannya dalam memainkan pedang dan seni perang serta keahliannya berkuda tak ada yang meragukan kemampuannya ini. Inilah keahlian yang menjadi kebanggaan setiap pria di Jazirah Arab. Keahliannyalah yang mengantarkan dirinya menempati posisi terhormat di kalangan kaumnya dan suku-suku lain.Pada tahun 9 H, di suasana yang tenang ini, suku-suku Arab terus berbondong-bondong mendatangi Rasulullah di Madinah. Berbaiat menyatakan sumpah setia memeluk Islam, termasuk suku Tamim. Al-Qa'qa' bin Amr yang memang seorang kesatria dan ahli dalam bidang syair di kalangan suku Tami mini, seperti mendapatkan pengalaman baru saat melihat fenomena yang langka ini—bahkan tak pernah terjadi—yang menyejukkan jiwanya di Masjid Nabawi. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an membuatnya tertegun. Inilah awal pengalaman spiritual dari seorang kesatria yang hebat, Al-Qa'qa' bin Amr.
Maka saat ia bersama rombongan suku Tamim bertatap muka dengan Rasulullah, jiwanya bergetar. Pancaran keagungan Rasul dan untaian katanya mengetuk jiwa Al-Qa'qa' bin Amr. Hatinya pun mulai terbuka untuk menerima hidayah Ilahi. Saat itulah tanpa ragu Al-Qa'qa' bin Amr berikrar dan bersyahadat di depan Rasulullah. Sekembalinya dari Madinah, Al-Qa'qa' bin Amr bersama keluarga dan kaumnya memeluk Islam. Sayang, Al-Qa'qa' bin Amr tak sempat untuk ikut serta dalam menunaikan ibadah haji wada’ karena harus merawat ibunya yang menderita sakit.
Namun begitu, hatinya selalu diliputi kerinduan yang mendalam untuk belajar dan mengabdi kepada Rasulullah di Madinah. Sejak berada di Madinah, Al-Qa'qa' bin Amr tak pernah absen untuk menghadiri majelis Rasulullah. Ia sadar dirinya memeluk Islam dengan sangat terlambat.
Sebagai seorang kesatria suku Tamim, Al-Qa'qa' bin Amr mendapat tugas melatih seni militer kaum Muslimin di kawasan luar kota Madinah. Inilah pasukan yang dipersiapkan oleh Rasulullah di akhir hayatnya. Sebuah pasukan yang dipimpin sahabat termuda Usamah bin Zaid.
Namun kebersamaan Al-Qa'qa' bin Amr dengan Rasulullah tak beralangsung lama. Pada tahun 11 H, Rasulullah wafat menghadap Allah Yang Maha Esa. Dan inilah yang membuat dirinya larut dalam kesedihan bersama sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.
Di masa pemerintahan Abu Bakar yang menjadi khalifah pertama dalam Islam ini, Al-Qa'qa' bin Amr tampil cemerlang di berbagai medan jihad. Hingga akhirnya Al-Qa'qa' bin Amr menjadi satu-satunya orang yang dikirim oleh khalifah Abu Bakar sebagai bala bantuan kepada Khalid yang tengah menghadapi kesulitan, karena sebagian besar pasukannya memilih untuk beristirahat daripada berperang melawan Persia. Di sinilah ketangkasan Al-Qa'qa' bin Amr benar-benar teruji seperti yang dikatakan oleh khalifah Abu Bakar, “Seorang qaqa berbanding dengan 1.000 pasukan.” Kaum Muslimin pun meraih kemenangan gemilang dan berhasil menguasai kawasan Hirah di Iraq.
Nama Al-Qa'qa' bin Amr semakin menjadi perbincangan di kalangan kaum Muslimin setelah dirinya membuat gentar pasukan Romawi dalam Perang Yarmuk di Syam. Bersama Ikrimah bin Abu Jahal, Al-Qa'qa' bin Amr berhasil membakar semangat kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Romawi, hingga akhirnya meraih kemenangan. Kemenangan yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai tonggak yang membuka gerbang bagi penaklukan-penaklukan Muslimin di luar Jazirah Arab.
Pada tahun 13 H, di suasana yang mengharukan ini, khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggal dunia menghadap Allah Yang Maha Esa. Selanjutnya, kekhalifahan pun beralih ke tangan Umar bin Al-Khattab yang menjadi khalifah kedua dalam Islam. Amirul Mukminin Umar pun mengirim bala bantuan untuk pasukan Sa’ad bin Abu Waqqash untuk menaklukkan kota Madain, tempat singgasana Raja Persia ini dan sekaligus menjadi ibukota Persia. Amirul Mukminin Umar mengirim Al-Qa'qa' bin Amr yang tengah berada di Syam yang sedang berperang melawan pasukan Romawi agar bergerak ke Iraq menyusul pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abu Waqqash.
Qadisiyah merupakan kawasan yang menjadi gerbang menuju benteng Jalaula yang merupakan benteng kota Madain, ibukota Persia. Di Qadisiyah ini, Kaum Muslimin terlibat pertempuran yang sangat dahsyat melawan pasukan Persia. Al-Qa'qa' bin Amr yang baru tiba di medan qadisiyah ini, langsung menggebrak hingga membuat nyali Persia menjadi ciut.
Sa’ad bin Abu Waqqash yang tengah menderita sakit dan hanya bisa mengatur pertempuran di sebuah tenda besar, segera memberi perintah kepada Al-Qa'qa' bin Amr dan saudaranya, Asim untuk menangani gajah putih yang selalu membuat kekacauan di barisan kaum Muslimin.
Benar saja, dengan ketangkasannya Al-Qa'qa' bin Amr dan saudaranya berhasil melempar tombak tepat mengenai sasarannya, yaitu di kedua mata gajah itu. Inilah yang mengawali kemenangan kaum Muslimin dalam perang yang menentukan atas kemenangan melawan pasukan Persia.
Al-Qa'qa' bin Amr kemudian bergerak ke benteng jalaula yang merupakan gerbang Madain. Di medan jalaula ini, Al-Qa'qa' bin Amr kembali memperlihatkan taringnya sebagai ahli perang. Dia dan pasukannya dari suku Tamim kembali mendobrak musuh hingga membuat Persia terkesima dengan kehebatannya.
Akhirnya dengan jatuhnya benteng jalaula ini, secara praktis membuat kaum Muslimin dengan mudah menaklukkan kota Istana Putih ini yang merupakan tempat singgasana Raja Persia. Dengan begitu, secara otomatis negeri yang kaya raya ini jatuh ke tangan kaum Muslimin.
Al-Qa'qa' bin Amr memang kesatria tanpa tanding. Namun, berkat kecerdasan dan ketulusannya terhadap agama, membuat dirinya semakin mantap dan sempurna. Itulah mengapa khalifah Utsman bin Affan mengangkatnya sebagai seorang gubernur di Armenia. Ketegasannya sebagai pemimpin menjadi modal utamanya untuk berlaku adil dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi di masyarakatnya.
Sejak wafatnya khalifah utsman bin Affan, Al-Qa'qa' bin Amr tetap setia mengabdi kepada khalifah yang dibaiat kaum Muslimin. Itulah mengapa ia begitu setia menjadi pendamping Ali bin Abu Thalib dan terus mengawal kekhalifahan yang sah yang dibaiat kaum Muslimin.
Al-Qa'qa' bin Amr adalah orang yang sangat rajin untuk mengasah kemampuan dirinya sehingga dia menjadi orang yang hebat di lapangan. Mungkin Al-Qa'qa' bin Amr tidak dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli Al-Qur’an, tetapi Al-Qa'qa' bin Amr benar-benar hadir sebagai orang yang mempunyai keistimewaan di mana orang lain susah mencari keistimewaan itu. Hal itu harus kita miliki, karena kita mungkin tidak menguasai banyak hal, tetapi kuasailah satu hal saja yang menurut kita, kita mampu melakukannya yang dengan itu kelak kita akan dengan mudah menjawab pertanyaan Allah saat kita hadir di hadapan-Nya bahwa kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Berakhirnya masa kekhalifahan Hasan bin Ali, dan beralihnya kekhalifan ke tangan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Al-Qa'qa' bin Amr memutuskan untuk mengndurkan diri dan pindah ke wilayah Mesir, hingga ia wafat pada tahun 40 H. Dialah potret Muslim yang sejati yang mengedepankan keberanian, kejujuran, dan ketulusan serta kesetiaannya kepada agama yang diridhai oleh Allah ini dan kepada Rasulullah. semoga Allah meridhaimu wahai Al-Qa'qa' bin Amr.
sumber: ROTIBAYN
Jumat, 11 November 2016
RENCANA AKSI BELA ISLAM JILID III
Kabar mengenai bakal digelarnya lagi Aksi Bela Islam pada 25 November mendatang, ternyata bukan hanya isu.
Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) KH Bahtiar Natsir menegaskan, pihaknya memberikan tenggat waktu tiga pekan bagi aparat hukum untuk memproses kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Bila dalam tenggat itu tidak ada kejelasan proses hukum, maka akan ada Aksi Bela Islam III.
"Wapres dengan inisiatif sendiri menetapkan proses hukum Ahok diselesaikan dua pekan. Kami, beri waktu tiga pekan terhitung aksi 4 November. Kalau tidak ada kemajuan, umat akan bergerak kembali," tegas UBN, panggilan akrab Ustaz Bahtiar Natsir, saat dihubungi, Rabu (9/11).
Menurut UBN, apa yang dilakukan Ahok merupakan tidakan melanggar hukum karena telah menafsirkan ayat suci Alquran, padahal dirinya bukan muslim. "Kami tidak terima Kitab Suci kami ditafsirkan yang bukan ahlinya dan bukan umat Islam. Itu sama artinya dengan menghina Alquran," tegas ahli tafsir Alquran lulusan Islamic University of Madinah, Arab Saudi, itu. Mengenai kapan aksinya, UBN belum memastikan tanggalnya. "Kami lihat dulu prosesnya. Mudah-mudahan hasilnya positif," tandasnya.
"Wapres dengan inisiatif sendiri menetapkan proses hukum Ahok diselesaikan dua pekan. Kami, beri waktu tiga pekan terhitung aksi 4 November. Kalau tidak ada kemajuan, umat akan bergerak kembali," tegas UBN, panggilan akrab Ustaz Bahtiar Natsir, saat dihubungi, Rabu (9/11).
Menurut UBN, apa yang dilakukan Ahok merupakan tidakan melanggar hukum karena telah menafsirkan ayat suci Alquran, padahal dirinya bukan muslim. "Kami tidak terima Kitab Suci kami ditafsirkan yang bukan ahlinya dan bukan umat Islam. Itu sama artinya dengan menghina Alquran," tegas ahli tafsir Alquran lulusan Islamic University of Madinah, Arab Saudi, itu. Mengenai kapan aksinya, UBN belum memastikan tanggalnya. "Kami lihat dulu prosesnya. Mudah-mudahan hasilnya positif," tandasnya.
Sabtu, 05 November 2016
BIOGRAFI AL IMAM AL MUHAJIR AHMAD BIN 'ISA
Beliau adalah Sayyid Ahmad Al Muhajir bin Isa Al Naqieb bin Muhammad bin Ali Al Uraidli bin Ja’far As Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al Imam Al Husain Al Sibth bin Al Imam Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra Putri Nabi Muhammad SAW. Dengan perjuangannya yang tak kenal lelah dan penuh kesabaran, beliau berhasil menanamkan metode Da’wah ila Allah dengan cara khusus beliau, dan berhasil menanamkan paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Hadhramaut, Yaman.
Al Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa lahir di kota Bashra Iraq tempat tinggal keluarga dan sanak saudaranya, para ahli sejarah berselisih tentang tanggal kelahiran Al Imam Al Muhajir, namun Saiyid Muhahammad Dhiya’ Shihab dalam kitab beliau yang berjudul Al Imam Al Muhajir mengatakan: sejauh pengetahuan kami tak seorang pun yang mengetahui umur Al Imam Al Muhajir secara pas, boleh jadi karena literature yang mengungkapkan hal tersebut telah sirna, akan tetapi dari sedikit data yang kami miliki kami dapat mengambil satu kesimpulan, dan boleh jadi kesimpulan yang kami ambil ini sesuai dengan fakta, lalu dia mengatkan setelah dipelajari dan diperbandingkan dari sejarah pekerjaan anak-anak beliau dan sebagian guru-guru beliau, bisa disimpulkan bahwa Al Imam Al Muhajir dilahirkan pada tahun 273 H. Saiyid Salim bin Ahmad bin Jindan mengatakan di kitab Muqaddimah Musnad-nya bahwa Al Muhajir belajar kepada Al Nablisi Al basri ketika beliau berumur 4 th, dari sini disimpulkan bahwa beliau dilahirkan pada 279H.
Al Muhajir tumbuh dan berkembang dibawah Asuhan kedua orang tua nya dengan nuansa keilmuan religi yang sangat kental, demikina diungkapkan oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Shatiri, dalam kitabnya Adwaar Al Tarikh Al Hadhramy.
Masa yang dilalui Al Muhajir adalah masa yang dipenuhi dengan ragam peradaban dan warna-warni ilmu pengetahuan, seperti ilmu Shariah, filsafat, falak, satra, tasawuf, matematika dan lain-lain, dikatakan bahwasanya Al Muhajir banyak mengambil riwayat dari ulama’ pada zamannya, diantara mereka, Ibnu Mundah Al Asbahani, Abdul Karim Al Nisai, Al Nablisi Al bashri, banyak pula para ulama’ yang mengambil riwayat dari nya seperti Alhafidh Al Daulabi (di bashrah 306H), Ibnu Shaid, Al Hafidh Al Ajury, Abdullah bin Muhammad bin Zakariya Al Aufi Al Muammar Al Bashri, Hilal Haffar Al Iraqi, Ahmad bin Said Al Ashbahani, Ismail bi Qasim Al Hisasi, Abu Al Qasim Al Nasib Al Baghdadi, Abu Sahl bin Ziyad, dan lain-lain.
Masa yang dilalui Al Muhajir adalah masa yang dipenuhi dengan ragam peradaban dan warna-warni ilmu pengetahuan, seperti ilmu Shariah, filsafat, falak, satra, tasawuf, matematika dan lain-lain, dikatakan bahwasanya Al Muhajir banyak mengambil riwayat dari ulama’ pada zamannya, diantara mereka, Ibnu Mundah Al Asbahani, Abdul Karim Al Nisai, Al Nablisi Al bashri, banyak pula para ulama’ yang mengambil riwayat dari nya seperti Alhafidh Al Daulabi (di bashrah 306H), Ibnu Shaid, Al Hafidh Al Ajury, Abdullah bin Muhammad bin Zakariya Al Aufi Al Muammar Al Bashri, Hilal Haffar Al Iraqi, Ahmad bin Said Al Ashbahani, Ismail bi Qasim Al Hisasi, Abu Al Qasim Al Nasib Al Baghdadi, Abu Sahl bin Ziyad, dan lain-lain.
Sebagaimana disebutkan bahwa masa ini makmur dengan ilmu dan budaya namun disisi lain masa ini pun marak dengan fitnah, pertikaian, bentrok pemikiran dan senjata, Al Muhajir memandang masa itu sebagai masa kritis yang penuh dengan cobaan dan penderitaan, Negara-negara islam mulai meleleh persatuan pandangan dan politiknya, dan berkembang menjadi unstabilitas sosial dan pertumpahan darah.
Revolusi Negro dan Fitnah Karamitah
Kehidupan Al Muhajir semenjak muda hingga dewasa diwarnai dengan guncangan-guncangan social dibashrah*[1] dan Iraq secara umum, mulai dari revolusi negro yang berawal pada tahun 225, pada masa pemerintahan Negri Abbasiyah, sampai fitnah yang disebarkan oleh Karamitah, sebuah sekte yang dipimpin oleh Yahya bin Mahdi di Bahrain, dia dengan para pengikutnya bekerja keras untuk membiuskan paham-pahamnya disemua lapisan masyarakat dan menggunakan situasi guncang akibat revolusi negro dan fitnah Khawarij untuk memepercepat pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Terpencarnya Bani Abi Thalib
Seorang Ahli Sejarah, Abdullah bin Nuh menuliskan dalam tambahannya untuk kitab Al Muhajir hal 37 tentang kesaksian Al Muhajir tentang terpencarnya Bani Alawi ke penjuru dunia, seperti India, Sumatra, kepulauan Ujung timur, dan perbatasan cina, yang mana hal ini merupakan sebab tersebarnya agama islam diseluruh dunia.
Kepribadian Al Muhajir di Bashrah
Kepribadian Almuhajir dibentuk oleh suasana yang penuh dengan pertentangan, ilmu, sastra, falsafat, pertumpahan darah, rasa takut, pertikaian disamping giatnya gerakan roda perdagangan dan pertanian, bahkan Almuhajir menyaksikan kapal-kapal besar bersandar di Bashrah dengan membawa barang dagangan hasil bumi, dan orang-orang dari berbagai bangsa. Keluarga Al Muahajir termasu keluarga terhormat yang bersih hatinya, penuh keberanian, kedudukan dan kekayaan dibarengi dengan taqwa dan istiqamah. Saudara Al Muhajir Muhammad bin Isa adalah panglima perang dan pemimpin expansi wilayah islam.
Hijrah Al Muhajir dari Bashrah
Hijrah Al Imam Al Muhajir di dorong oleh keinginan untuk menjaga dan melindungi keluarga dan sanak familinya dari bahaya fitnah yang melanda Iraq diwaktu itu.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Al Muhjir memutuskan untuk hijrah ke hijaz, maka disodorkanlah berbagai alasan untuk meyakinkan keluarga dan sanak familinya untuk meninggalkan bashrah, dan mereka pun menyetujui usulan Al Muhajir. Hijrah Al Muhajir terjadi pada 317 H dari Bashrah ke Al MAdinah Al Munawwarah. Diantara keluarga dan sanak famili Al Muhajir yang ikut berhijrah bersama Al Muhajir adalah:
1. Al Imam Al Muhajir Ilaa Allah Ahmad bin Isa. *[3]
2. Zainab binti Abdullah bin Hasan Al Uraidli Isteri Al Muhajir
3. Abdullah bin Ahmad putra Al Muhajir
4. Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad Isteri Abdullah bin Ahmad.
5. Ismail bin Abdullah bin Ahmad yang dijuluki dengan Al Bashry
6. Al Syarif Muhammad bin Sulaiman bin Abdillah kakek Keluarga Al Ahdal *[4].
7. Al Syarif Ahmad Al Qudaimi kakek keluarga Al Qudaim *[5]
8. 70 orang dari oarng-orang dekat Al Muhajir diantara mereka: hamba sahaya Al Muhajir, Jakfar bin Abdullah Al Azdiy, Mukhtar bin Abdullah bin Sa’ad, dan Syuwaiyah bin Faraj Al Asbahani.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Al Muhjir memutuskan untuk hijrah ke hijaz, maka disodorkanlah berbagai alasan untuk meyakinkan keluarga dan sanak familinya untuk meninggalkan bashrah, dan mereka pun menyetujui usulan Al Muhajir. Hijrah Al Muhajir terjadi pada 317 H dari Bashrah ke Al MAdinah Al Munawwarah. Diantara keluarga dan sanak famili Al Muhajir yang ikut berhijrah bersama Al Muhajir adalah:
1. Al Imam Al Muhajir Ilaa Allah Ahmad bin Isa. *[3]
2. Zainab binti Abdullah bin Hasan Al Uraidli Isteri Al Muhajir
3. Abdullah bin Ahmad putra Al Muhajir
4. Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad Isteri Abdullah bin Ahmad.
5. Ismail bin Abdullah bin Ahmad yang dijuluki dengan Al Bashry
6. Al Syarif Muhammad bin Sulaiman bin Abdillah kakek Keluarga Al Ahdal *[4].
7. Al Syarif Ahmad Al Qudaimi kakek keluarga Al Qudaim *[5]
8. 70 orang dari oarng-orang dekat Al Muhajir diantara mereka: hamba sahaya Al Muhajir, Jakfar bin Abdullah Al Azdiy, Mukhtar bin Abdullah bin Sa’ad, dan Syuwaiyah bin Faraj Al Asbahani.
Rombongan Al Muhajir berhijrah ke madinah melalui jalan Syam karena jalan yang biasa dilalui kurang aman *[6], dan sampai di Madinah pada tahun 317, konon di tahun ini terjadi fitnah besar di Al Haramain, gerakan Karamithah masuk ke Makkah Al Mukarramah di musim haji dan membuat keributan di sana serta mengambil hajar aswad dari tempatnya *[7]. Pada tahun berikutnya 318H Al Muhajir beserta keluarga berngkat ke Makkah untuk melaksanakan Ibadah Haji, konon para jamaah haji pada tahun itu hanya meletakkan tangan mereka di tempat hajar aswad, disaat melaksanakan Ibadah haji Al Muhajir bertemu dengan rombongan dari Tihamah dan Hadhramaut, belajarlah mereka dari Al Muhajir ilmu dan akhlak, dan mereka menceritakan kepada Al Muhajir tentang fitnah Al Khawarij di Hadhramaut dan mengajak Al Muhajir untuk membantu mereka menyelesaikan fitnah itu lantas Al Muhajir menjanjikan untuk datang ke negeri mereka.
Perjalanan ke Tihamah dan Hadhramaut.
Hadhramaut pada waktu itu berada dibawah pengaruh Abadhiyah suatu gerakan yang dipelopori oleh Abdullah bin Ibadh Al Maady, gerakan ini pertama kali muncul pada abad kedua hijriah dibawah pimpinan Adullah bin Yahya Al Amawi yang menjuluki dirinya sebagai pencari kebenaran
Al Mas’udi dalam kitab sejarahnya menuliskan “Alkhawarij masuk Hadhramaut dan pada saat itu kebanyakan penduduknya adalah pengikut aliran Ibadhiyah dan sampai saat ini (332 tahun penulisan buku tersebut) dan tidak ada perbedaan antara Khawarij yang ada di Hadhramaut dengan yang ada di Oman. Akan tetapi aliran Ibadhiyah dan Ahlu Sunnah tetap hidup di Hadhramaut meskipun pengaruh Khawarij lebih menyeluruh di wilayah Hadhramaut samapi datangnya Al Muhajir.
Mengapa Al Muhajir memilih untuk berhijrah ke Hadhramaut?
Mengapa Al Muhajir memilih untuk berhijrah ke Hadhramaut?
Dhiya Syihab dalam kitabnya Al Imam Al Muhajir mengatakan, apakah motivasi Al Muhajir untuk berhijrah ke hadhramaut adalah harta? Hadhramaut bukanlah negri yang berlimpah harta dan dia pun seorang yang kaya raya, ataukah hijrah Al Muahjir adalah untuk membantu rakyat hadhramaut, dan mencegah merembetnya fitnah Karamitah yang terus meluas? Sebenarnya kondisi dan peristiwa-peristiwa diatas adalah alas an utama kenapa Al Muhajir berhijrah ke Hadhramaut, sesuai ayat “Alam takun ardlu Allahi waasi’atan fatuhaajiruu fiihaa” artinya tidakkah bumi Allah itu luas sehingga kamu berhijrah dan hadist ” yuu syiku an yakuuna khairu maali al muslim ghanamun yatba’u biha sya’afa al jibal wa mawaqi’a alqatar ya firru bidiinihi min al fitan” artinya dikhawatirkan akan dating suatu masa dimana harta yang paling berharga bagi seseorang adalah kambing, dia membawanya kearah pegunungan dan kota-kota untuk melarikan diri menyelamatkan agamanya dari fitnah. Maka Allah menjadikan hijrah Al Muahajir ke Hadramaut sebagai donator dan petunjuk sebab dengan hartanya Al Muhajir membangun banyak infrastruktuk yang lapuk dimakan zaman dan dengan kehadirannya Allah menyadarkan banyak dari orang-orang yang fanatic buta kepada Kahawarij.
Rombongan Al Muhajir diantara Tihamah dan Hadhramaut.
Saiyid Muhammad bin Sulaiman Al Ahdal salah satu dari anggota rombongan memutuskan untuk menetap di Murawa’ah di Tihamah *[9], sedangkan saiyid Ahmad Al Qudaimy memutuskan untuk menetap di lembah Surdud di Tihamah, dan dengan izin Allah SWT mereka menjadi tonggak berkembangnya keturunan Nabi Muhammad SAW di negri tersebut, adapun Al Muhajir dia tetap meneruskan perjalanan hingga sampai di desa Al Jubail di lembah Doan, konon penduduknya merupakan pecinta keluarga Nabi Muhammad SAW dan mereka dapat banyak belajar dari Al Muhajir, kemudian pindah ke Hajren disana terdapat Al Ja’athim termasu kabilah Al Shaddaf yang merupakan pengikut aliran Sunny *[10], disana Al Muhajir mangajak semua golongan untuk bersatu di bawah panji islam dan mempererat tali persaudaraan diantara mereka, maka banyaklah diantara orang-orang kahawarij yang sadar dan taubat kembali kejalan yang benar, ketika di Hajren Al Muhajir ditemani dan dibela oleh para petua dari kabilah ‘afif. Al Muhajir membeli rumah dan kebun korma di hajren yang kemudian dihibahkan ke hamba sahaya nya Syuwaiyah sebelum pindah dari Hajren.
Dan setelah keluar dari Hajren Al Muhajir singgah dan bertempat tinggal di kampung Bani Jusyair didekat desa Bur yang mana penduduknya pada saat itu adalah Sunny, disitu Al Muhajir berdakwah dengan sabar dan sopan, kemudian pindah lagi ke desa Al Husaiyisah *[11] dan disana membeli tanah perkebunan yang dinamakan Shuh di atas desa Bur. Pada periode ini Al Muhajir banyak menarik perhatian orang di daerah itu sehingga mereka banyak mengikut langkah sang Imam, kecuali beberapa golongan dari kahawarij, hal ini yang menyebabkan Al Muhajir mendatangi mereka untuk memahamkan mereka.
Al Imam Al Muhajir dan Khawarij
Hadirnya Al Muhajir di Hadhramaut merupakan peristiwa besar dalam sejarah, sebab kehadiran Al Muhajir di Hadhramaut membawa perubahan besar di daerah itu, Yaman ketika itu diperintah oleh Al Ziyad di Yaman utara, namun penduduk Hadhramaut memiliki hak untuk menetukan perkara mereka, tidak semua penduduk Hadhramaut pada saat itu bermadzhab Ibadhi, terbukti keluarga Al Khatib dan Ba Fadhal dari Tarim pada saat itu masih berpegang teguh dengan aliran yang benar.
Imam Muhajir selalu berdiskusi dengan para pengikut Abadhiyah dengan bijaksana dan teladan yang mulia, yang mana hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para lawan diskusinya dan menimbulkan simpati mereka, Khawarij adalah mazhab yang menerima diskusi tentang madzhab mereka dan mereka pun banyak berdiskusi dengan para ulama di banyak hal, sedangkan Al Imam Al Muhajir merupakan sosok yang ahli dalam hal meyakinkan lawan bicara. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Saiyid Al Syatiri dalam kitabnya “Al Adwar” halaman 123, sehingga aliran Al Abadhi perlahan-lahan terkikis dan habis di hadhramaut dan digantikan dengan mazhab Al Imam Syafii dalam hal pekerjaan dan Imam Al Asy’ary dalam hal Aqidah.
Adakah bentrok senjata antara Al Muhajir dan Khawarij?
Para ahli sejarah berselisih pendapat tentang terjadinya kontak senjata antara Al Muhajir dengan Khawarij, sebagian menyatakan terjadinya hal itu dan meriwayatkan kemenangan Al Muhajir atas kaum Khawarij, sebagian lagi menafikan hal tersebut.
Saiyid Al Syathiri dalam kitabnya “Al Adwar” menafikan terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak, dkatakanjuga bahwa pendapat ini di ambil karena dari sekian referensi sejarah yang ada pada nya tidak satupun yang memaparkan tentang terjadinya kontak senjata diantara kedua belah pihak demikian juga para penulis sejarah Hadhramaut dari kurun terakhir *[12], adapun Saiyid Dhiya Syihab dan Abdullah bin Nuh dalam kitab Al Muhajir menyatakan terjadinya perang Bahran *[13] namun keduanya tidak mencantumkan referensi yang memperkuat pendapat tersebut.
Saiyid Abdul Rahman bin Ubaidillah mengatakan bahwa Al Muhajir dan putra-putra nya terus menrus melancarkan argument-argumen kepada Ibadhiyah sampai mereka kehabisan dalil dan pegangan, dikatakan juga bahwa Al Muhajir melumpuhkan kekuasaan Abadhiyah dengan cara melancarkan argument-argumen yang membuktikan kesalahan mazhab mereka, Syeh Salim bin Basri mengatakan Al Muhajir membuka kedok bid’ah Khawarij dan membuktikan kesalahannya, pendapat keduanya didukung pula oleh Al Faqih Al Muqaddam.
Al Imam Al Muhajir dan nasab mulianya

Tangga menuju makam Imam Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir
Sebagian penulis mengangkat tajuk pada tulisan mereka mengenai nasab Ahlu Bait Nabi Muhammad SAW, banyak diantara mereka yang menanamkan keraguan tentang Ahlu bait, motivasi mereka untuk mengangkat tema itu bermacam-macam diantara mereka ada yang hanya ingin mendapatkan pencerahan sehingga lebih meyakinkan mereka, ada pula diantara mereka yang ingin menjatuhkan Ahlu bait karena iri dan dengki terhadap mereka.
Berangkat dari kenyataan ini Al Imam Al Muhajir sebelum berangkat ke Hadhramaut telah menyusun nasabnya dan anak-anaknya smapai Rasulullah SAW, sebelumnya keluarga Al Muhajir nasab dan silsilahnya sudah terkenal di kota Bashrah, seandainya bukan begitu ini merupakan titik lemah yang bisa digunakan oleh Khawarij untuk menumbangkan dalill-dalil Al Muhajir.
Sepeninggal Al Imam Al Muhajir beberapa orang ulama Hadhramaut berinisiatif untuk mencari bukti yang membenarkan nasab Al Imam Al Muhajir, Syeh Ba Makhramah dalam kitab tarikh nya mengatakan: Ahmad bin Isa ketika datang di Hadhramaut, penduduk kota itu mengakui kemulyaan dan keagungannya, lantas mereka ingin membuktikan pengakuan mereka lantas 300 orang mufti di Tarim pada saat itu mengutus seorang ahli hadist Al Imam Ali bin Muhammad bin Jadid ke Iraq untuk membuktikan hal tersebut *[14], lantas sang imam pulang dengan membawa nasab mulia Al Muhajir.
Alwi bin Thohir membeberkan masalah ini di salah satu artikelnya yang di muat di majalah Rabithah Alawiyah(2/3:95M) dan mengatakan, kemulayaan Al Muhajir, keberadaan famili dan handai taulannya di Bashrah, tinggalnya Muhammad putra Al Muhajir di bashrah untuk menjaga harta bendanya, dan putra putri Ali, hasan, dan Husain, kedatangan Saiyid Jadid bin Abdullah untuk melihat harta benda itu, kesaksian penduduk Iraq akan kebenaran nasab Al Muhajir dan pengembangan harta Al Muhajir dari Iraq oleh anak cucunya di Hadhramaut, adanya saudara dan ipar Al Muhajir di Iraq, adanya hubungan yang continyu diantara mereka, adanya kabilah Bani Ahdal dan Bani Qudaim di Yaman, ini semua merupakan bukti akan kebenaran nasab Al Muhajir, tidaklah mudah bagi Saiyid Ali Bin Muhammad bin Jadid untuk mendapatkan bukti ini sepeninggal kakek-kakenya selama bertahun-tahun bila nasab tersebut tidak terkenal di Bashrah, karena Ali dilahirkan di Hadhramaut bergitu juga Ayahnya Muhammad bin Jadid, akan tetapi hubungan antara mereka dengan keluarga yang di Iraq setelah kepergian mereka tidak putus.
Diantara para penulis yang mengulas luas tentang nasab Al Muhajir da puta-putra nya adalah:
1. Al Majdi, Al Mabsuth, Al Masyjar, yang ditulis oleh Ahli nasab, Abu Hasan Najm Al Diin Ali bin Abi Al Ghanim Muhammad bin Ali Al Umri Al Bashri, meninggal tahun 443.
2. Tahdhib Al Ansaab, Tulisan tangan Al Allamah Muhammad bin Ja’far Al Ubaidli, meninggal tahun 435.
3. Umdatu Al Thalib Al Kubra, ditulis oleh ahli nasab Al Allamah Ibn Anbah Jamal Al Diin Ahmad bin Ali bin Husain bin Ali bin mihna Al Dawudi.
4. Al Nafhah Al Anbariyah Fi Ansab Khairil Briyah, ditulis oleh Al Allamah Ibn Abi Al Fatuh Abi Fudhail Muhammad Al Kadhimi, meninggal tahun 859.
5. Tuhfatu Al Thalib Bi Ma’rifati Man Yantasib Ilaa Abdillah Wa Abii Thalib, ditulis oleh Al Allamah Al Muarrikh Abi Abdillah Muhammad bin Al Husain Al Samarqandi Al Makky, meninggal tahun 996.
6. Zahru Al Riyadh Wa Zalalu Al Hiyaadl, ditulis oleh Al Allamah Dlamin bin Syadqam, meninggal tahun 1085.
2. Tahdhib Al Ansaab, Tulisan tangan Al Allamah Muhammad bin Ja’far Al Ubaidli, meninggal tahun 435.
3. Umdatu Al Thalib Al Kubra, ditulis oleh ahli nasab Al Allamah Ibn Anbah Jamal Al Diin Ahmad bin Ali bin Husain bin Ali bin mihna Al Dawudi.
4. Al Nafhah Al Anbariyah Fi Ansab Khairil Briyah, ditulis oleh Al Allamah Ibn Abi Al Fatuh Abi Fudhail Muhammad Al Kadhimi, meninggal tahun 859.
5. Tuhfatu Al Thalib Bi Ma’rifati Man Yantasib Ilaa Abdillah Wa Abii Thalib, ditulis oleh Al Allamah Al Muarrikh Abi Abdillah Muhammad bin Al Husain Al Samarqandi Al Makky, meninggal tahun 996.
6. Zahru Al Riyadh Wa Zalalu Al Hiyaadl, ditulis oleh Al Allamah Dlamin bin Syadqam, meninggal tahun 1085.
Ibn Anbah dan AL Imam Al Murtadla memiliki dua kitab berbeda tentang nasab ini dan belum dicetak, adapun kitab yang ditulis secara modern tentang nasab Ahlu bait antara lain Dirasaat Haula Ansaab Alu bait oleh Saggaf bin Al Alkaff., Tazwiid Al Rawi oleh Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri. Jadi permasalahannya sekarang bukan karena kurangnya literature atau referensi tapi karena hilangnya prinsip amanah dan hantaman dari para pengkhiyanat, juga karena kurangnya tingkat pengetahuan syariah sebagian Ahlu bait dan terpengaruhnya mereka oleh budaya orientalist, yang terus merongrong zona islam.
Meninggalnya Al Imam Al Muhajir
Setelah perjuangan yang tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran Al Imam Al Muhajir berhasil menanamkan metode Da’wah ila Allah dengan cara khusus beliau, dan berhasil pula menanamkan paham Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Hadhramaut, akhirnya Al Muhajir berpulang kehadirat Allah SWT pada tahun 435 H, dan di makamkan di Al Husyaisyiah tepatnya di Syi’b Makhdam, dan dapat diziarahi sampai hari ini.
Dimakamkan pula disekitar Kuba Al Muhajir Saiyid Al Allamah Ahmad Al Habsyi, dahulu diadakan setiap tahunnya peringatan masuknya Al Imam Al Muhajir ke Hadhramaut kemudian peringatan ini sempat terputus, lalu diadakan lagi namun dalam bentuk lebih terbatas, dan pada tahun 1422H ditambahkan nbeberapa peringatan yang sesuai dengan zaman, seperti seminar tentang samapainya Al Imam Al Muhajir di Hadhramaut, yang diisi didalamnya denagn study tentang sosok Al Muhajir, sejarah, ilmu, dan pengaruh perpindahannya ke Hadhramaut dalam kuliah-kuliah yang diadakan di Tarim dan Seiyun, dan harapan kami hal ini akan menjadi adat setiap tahun yang akan membiaskan gambaran ilmu dan sejarah yang telah ditorehkan oleh sekolah Al Muhajir dan orang-orang setelahnya demi membela islam, umat, dan negri.
الفاتحة إلى روح سيدنا وحبيبنا وشفيعنا رسول الله محمد بن عبدالله وآله وأصحابه وأزواجه وذريته وأهل بيته وإلى روح سيدنا المهاجر إلى الله أحمد بن عسى وأصوله وفروعهم ، أن الله يعلى درجاتهم في الجنة ويكثر من مثوباتهم ويضاعف حسناتهم و يحفظنا بجاههم وينفعنا بهم ويعيد علينا من بركاتهم وأسرارهم وأنوارهم وعلومهم ونفحاتهم في الدين والدنيا والآخرة – الفاتحة
_______________________________________________________________
*) Keterangan Catatan
[1] .oranr-orang negro mengadakan revolusi di effrat Basharh dibawah pimpinan seseorang dari Azarigah dari desa Drifin bernama Bahlul dan menjuluki dirinya Ali bin Abdul Rahim dari qabilah Abdul qais dari Bahrain, dia menggembar-gemborakan pembebasan para budak di Basrah dan sekitarnya, akhirnya dia berhasil mengambil hati para budak dan mengajak mereka untuk meninggalkan tuan-tuan mereka, lalu dia pindah ke Baghdad selam setahun kemudian kembali lagi ke Bashrah dan diperangi oleh Al Mu’tamad pada tahun 256 namun kemenangan ada di tangan para orang negro, sehingga penduduk Basrah pun meninggalkan negri mereka, tahun 357 orang-orang negro menguasai Bashrah dan banyak membantai penduduknya serta merusak dan membakar masjid-masjid serta menyalakan api diseluruh penjuru kota. (Al Muhajir)12-22.
Disebutkan juga bahwa diantara factor yang menyebabkan kemenangan orang negro adalah pertahanan kota sangat rapuh disebabkan karena perpecahan partai, tampaknya kota ini saat itu dilanda pertikaian antara Rabi’iyin yaitu Syiah, dan Al Sa’adiyin yaitu Sunny (Al Muhajir)23. masa kekuasaan Orang-orang negro berakhir pada tahun 280 setelah perang yang berlangsung selama 14 tahun, namun pengaruh fitnah ini berlangsung lama sekali.
[2] . Abdullah bin Nuh di tambahannya untuk kitab Al Muhajir mengatakan: Ahmad Al Muhajir adalah sosok yang sangat dermawan, berwibawa, berilmu dan senang menyantuni yang lain, kakeknya Muhammad bin Ali adalah putra bungsu ayahnya, lahir di Madinah Al Munawarah kemudian pindah ke Bashrah dan meninggal disana pada tahun 203, kakek Al Muhajir Ali Al Uraidli bin Imam Jakfar Al Shadiq, dinamakan al Uraidli karena dilahirkan di Al Uraidl suatu daerah berjarak 4 mil dari madinah, kakek AL Muhajir merupakan putra bungsu Ayahnya ditinggal mati ayahnya pada saat dia masih kecil lantas berhijrah bersama sudaranya Muhammad bin Ja’far ke Makkah ketika kakaknya melakukan gerrakan disana, dan berhijrah bersama Muhammad bin Muhammad bin Zaid ketika dia memimpin gerakannya di Iraq, lantas ke Khurasan kemudian Bashrah, penduduk Kufah mengundang beliau untuk singgah di sana, lantas beliau berangkat kesana dan tinggal disana beberapa waktu, ketika itu paenduduk Kufah benyak mengambil faidah dari keberadaan beliau, meninggal tahu 210 .
[3] . Para ahli sejarah sepakat untuk menjuluki Ahmad bin Isa dengan julukan Al Muhajir semenjak beliau hijra dari Iraq ke Hijaz yang kemudian menetap di Hadhramaut, Saiyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri dalam kitab “Al Adwar” menuturkan, sebab penjulukan Ahmad bin Isa dengan Al Muhajir karena dia Hijrah dari Bashrah ke Hadhramaut dengan sebab perbaikan, terutama jaminan keselamatan agamanya dan agama para pengikutnya, dan hijrah yang semacam ini bukan termasuk hijrah Bid’ah, karena hijrah semacamini sudah biasa dilakukan olah keluarga Nabi SAW, dimulai dari hijrah beliau dari Makkah ke Madinah yang kemudian diikuti oleh Al Imam Ali bin Abi Thalib ketika berhijrah ke Iraq Dari Hijaz, dan anak turunnya seperti Al Imam Husain bin Ali, Al Imam Zaid bin Ali bin Husain, Muhammad bin Nafs Al Zakiyah bin Abdullah Al Mahdh bin Al Husain Al Muthanna bin Al Hasan Al Sabt dan kedua saudaranya Ibrahim dan Idris moyang Bani Adarisah di Maghrib, dan lain-lain.(Al Adwar)(1:156)
[4] . Al Syarif Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah bin Isa bin Alawi bin Muhammad bin Hamham bin Aun bin Al Imam Musa Al Kadhim bin Ja’far Al Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Al Uraidli….
Demikian disebutkan Sayyid Ali bin Al Husain Al Ahdal dalam kitab Bughyatu Al Thalib Li Ma’rifati Awlaad Ali bin Abi Thalib, Al Ahdal adalah julukan yang diambil dari kata Al Adna yang berarti terdekat, keturunan Bani Ahdal berkembang di Yaman Utara.
[5] . Sebagian kitab tentang nasab menyebutkan nasab Bani Al Qudaimi diantaranya Al Sirah Al Mustafawiyah Wal Ansab Al fathimiyah yang ditulis oleh Al Allamah Saiyid Alawi bin Abdul ARhman Al Saggaf AL Al Makky, disebutkan Anak turun Husain di laembah Sardad dan sekitarnya Bani Qudaimi, Bani Al Syajar, Bani Ahmad, Bani Wali, Bani Sufi, Bani Ismail, Bani Arab, Bani Al Jarufi, Bani Al Shiddiq, Bani Al Bahr, Bani AL Thalj, Bani Al Syah. Ke 13 kabilah ini keturunan Hasan bin Yusuf bin Hasan bin Yusuf bin Hasan bin Yahya bin Salim bin Abdullah bin Husain bin Ali bin Adam bin Idris bin Husain bin Muhammad Al Jawad bin Ali Al Ridla bin Musa Al Kadhim bin Ja’far Al Shadiq.
[6] . Jalur ini dinamakan jalur Zubaidah, dinamakan Zubaidah yang mana dia adalah istri Haru Al Rasyid karena dia mengeluarkan banyak biaya demi untuk perbaikan dan pengamanan jalur ini pada tahun 90, kemudian jalur ini rusak setelah masa Khalifah Al Mutawakkil.
[7] . Karamithah mengambil Hajar Aswad dan dibawa ke Hajar, kemudian dikembalikan lagi setelah kurang lebih 22 tahun, selama itu tempat Hajar Aswad kosong, mereka mengatakan kami ambil Hajara Aswad dengan kekuasaan Allah dan kami kembalikan lagi dengan kehendak Allah.
[8] . Pencari kebenaran muncul bersama sekelompok orang Khawarij pada saat itu, mereeka menyapu Hadharamaut dan sekelilingnya, menguasai Sana’a, menggempur kota Makkah, dan berperang dengan Bani Umaiyah samapi habisnya perlawanan Khawarij, saat itu terbunuh A’war dan beberapa pengikutnya yang kemudian kepala mereka dikeler ke Damaskus pada tahun 130, akan tetapi fitnaj mereka belum selesai juga.
[9] Di sebutkan dalam kitab Al Muhajir, Moyang Bani Ahdal sampai di Yaman, beliau adalah Muhammad bin Sulaiman, lantas beliau tinggal di desa Murawa’ah dekat dengan Baitul Faqih, anak cucunya berkembang samapai diantara mereka ada yang tinggal di lembah Sahm, Fakhriyah, Zabid, Abyat Husain , dan diantara mereka juga ada yang hijrah ke Hadhramaut.
[10] Hajren termasuk pusat pedesaan Shadaf, yang mana pedesaan ini memanjang di pertengahan lembah Doan sampai daerah Andal, Al Ahrum, dan sampai dekat Sadbah.
[11] Sebuah desa diantara Tarim dan Seiyun, dan merupakan desa yang makmur beliau membeli sebagian besar tanah di daerah Suh, daerah ini merupakan benteng yang terkenal didalamnya terdapat sumur yang terletak diatas kota Bur, sumur ini digali oleh Saiyid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir dan di pagari dengan bebatuan besar disetiap batu di ukur nama beliau.
Al Husyaisyah sekarang tak berpenduduk dan rusak diceritakan bahwa rusaknya Al Husyaisyah ditangan Agil bin Isa Al Shabirati tahun 839.
[12] Saiyid Al Syathiri menukil dari Saiyid Al Allamah Abdullah bin Muhammad Al Saqqaf dalam komentar beliau untuk kitab Rihlatul Asywaaq Al Qawiyyah karangan Ba Kathir, di sebutkan didalamnya terjadinya bentrok senjata diantara mereka, kemudian dikatakan : sebuah pertempuran terjadi di Buhran ketika Al Muhajir masih tinggal di Al Hajrain ketika itu kekuasaan Abadliyah runtuh, setelah itu Al Muhajir pindah dari Al Hajrain menuju kampung Bani Jusyair, lantas Al Syatiri mengatakan: akan tetapi saya telephon Al Saqqaf dan memintanya untuk menyebutkan referensi pendapatnya, namun dia tidak menjawab. Sebagian orang menisbatkan pendapat ini kepada Al Marhum Ahmad bin Hasan Al Attas, dan belum diketahui referensi aslinya, Muhammad bin Aqil bin Yahya mengatakan di komentarnya atas kitab Diwan Ibn Syihab , bahwa Al Muhajir dan anak cucunya nya sampai abad ke 6 H memerangi kaum Abadhiyah kemudian mereka melepaskan senjata, tapi belum diketahui referensinya, boleh jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa Bani Alawiyin selalu menggunakan senjata untuk perang dan grilya, tapi pendapat semacam ini tidak bisa langsung diterima tanpa ada bukti tertulis, karena bersenjata barang kali itu hanya tradisi atau untuk membela diri semata.(Al Adwar 150;1)
[13] Bahran adalah padang pasir terletak diantara Al Hajrain dan desa Sadbah, peduduknya dari Kabilah Kindah.
[14] Sebagian orang menganggap kata kata (ingin membuktikan) adalah peraguan atas nasab Al Muhajir, tapi betapapun kata yang di gunakan penulis hal itu tidak mengandung penafian ataupun pembuktian, sebagaimana yang dilontarkan sebagian orang.
sumber : pencintahabibana.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)


